Minggu, 27 Februari 2022

LANGKA DI KANEYAN, ATEN DAN KIKI BERDUET DI MALAM PENGHIBURAN


 Sudah menjadi adat atau kebiasaan bila ada kedukaan di Desa Kaneyan akan di laksanakan Ibadah Penghiburan dan berlanjut dengan lagu penghiburan dari pelayat duka. Namun hal menarik terjadi ketika malam Penghiburan meninggalnya alm. Yos Moniung di Jaga IV tanpa disengaja terjadi duet yang menghebohkan ketika Bpk Marthen Suak berduet dgn anaknya Kiki Suak yang memukau dengan lagu yang cukup menghibur keluarga. Sesuatu yang jarang terjadi duet anak dan ayah yang begitu harmonis.

Itulah tujuan penghiburan menurut pemain keyboard pemuda Yudi Manembu

Minggu, 09 Desember 2018

CERIANYA WARGA KANEYAN DI MALAM HARI

Kelelahan warga Desa Kaneyan biasanya terobati manakala dimalam hari mereka sering berkumpul bercerita dan bercengkerama sambil melepas lelah. Kala itu, Minggu 9 Desember 2018 penulis sempat menyaksikan bagaimana keceriaan warga Desa Kaneyan tepatnya yang berada di Daerah Talikuran.
Membahas topik tentang  harga kopra yang semakin terpuruk, Unsu panggilan akrab dari Denny Ropa membuka percakapan tentang sulitnya keuangan masyarakat akibat harga kopra yang jauh harapan dari kenyataan. Namun, ditengah keseriusan itu munculah Ading Supit yang mengalihkan percakapan tentang kebiasaan masyarakat Kaneyan jaman dahulu yang selalu bangun di waktu subuh untuk persiapan bekerja di ladang dalam kelompok yang dikenal dengan Mapalus.

"Dahulu kala orang kaneyan selalu bangun subuh sekitar jam empat yang ditandai dengan bunyi tiupan Sesebung atau Bia untuk menandakan bahwa tidak lama lagi kelompok Mapalus akan berangkat untuk bekerja. Tetapi sekarang jam empat bapak-bapaknya masih sementara memegang Bia ...... yang diikuti dengan gemuruh tawa dari Anceng Adiknya serta beberapa warga Desa lainnya yaitu Lexi Pratasis yang juga adalah Pala di Jaga Empat bersama dengan Bobby dan satu-satunya wanita di tempat tersebut yaitu Ene Umboh.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Serap aspirasi masyarakat, "Meidy Singal" sambangi masyarakat Kaneyan

Manfaatkan tanggal cantik 7-10-2017 (7102017 - jika dibalik angkanya tetap sama) Anggota DPRD Kabupaten Minahasa Selatan dari Fraksi Golongan Karya, Meidy Jacky Singal SH, MSi. mengunjungi 3 Desa di Kecamatan Tareran (Kaneyan, Koreng dan Tumaluntung) untuk menampung aspirasi masyarakat.
Diawali di Desa Kaneyan, acara yang bertajuk “Masa Reses II” DPRD Kabupaten Minahasa Selatan yang bertempat di Balai Desa “Jacky” (panggilan akrab Meydy Jacky Singal SH. MSi.) yang datang lengkap dengan Isteri (Eva Suatan) dan anak-anaknya  mendengarkan aspirasi masyarakat untuk kebutuhan pembangunan di Desa Kaneyan. Sosok yang terkenal dengan "Pria Cool" dan "Low Profile"  ini secara saksama mendengarkan usulan dan keluhan masyarakat serta memberikan penjelasan terhadap usulan dan keluhan masyarakat tersebut.
Acara yang juga dihadiri oleh Hukum Tua Hanny Ratu bersama dengan Tokoh-tokoh dan ratusan masyarakat ini berlangsung dengan tertib dan lancar. Sebanyak 15 Tokoh dan anggota masyarakat yang bertanya dan memberikan usulan yaitu : Frans Rantung, Selvie Rumengan, Son Ropa, Jemmy Ratu, Abraham Pongkorung, Jammy Lamia, Frans Limbat, Renly Pratasis, Hengky Moniung, Apo Winerungan, Berny Pongkorung, Jhony Ropa, Adri Supit dan Frenke Rosang.

Dalam kesempatan tersebut Jacky menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan amanat Undang-undang No. 17 Tahun 2014 dan PP No. 16 Tahun 2010 yang wajib untuk dilaksanakan sebagai wujud ketaatan terhadap pelaksanaan peraturan yang harus ia ditaati dalam kapasitasnya sebagai anggota DPRD. Ditambahkannya juga bahwa usulan masyarakat tentunya akan diperjuangkan namun karena usulannya begitu banyak tentunya tidak semuanya dapat diselesaikan dalam satu tahun namun secara bertahap dan juga ada beberapa usulan yang dapat diwjudkan dengan memanfaatkan Dana Desa.

Secara terpisah Jacky menjelaskan bahwa aspirasi yang disampaikan oleh konstituen atau masyarakat dalam kegiatan reses Anggota DPRD yang merupakan keperluan masyarakat akan disampaikan untuk disusun dan diakomodir di dalam pokok-pokok pikiran DPRD, yang selanjutnya dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah dalam suatu program dan kegiatan yang dibahas dalam musrenbang mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan sampai tingkat Pemerintah Daerah. Sebagai Putra Desa Kaneyan saya akan berupaya agar apa yang menjadi dambaan masyarakat dapat terwujud pungkasnya mengakhiri pembicaraan.

Rabu, 08 Maret 2017

WARGA KANEYAN GEMPAR SOGILI HAMPIR 6 KG DITEMUKAN DI SUNGAI

Teddy Ropa memamerkan Sogili yg ditemukan
Pagi 8 Maret 2017 warga Kaneyan khususnya di seputaran Uner digemparkan dengan penemuan Belut Raksasa atau dalam bahasa Warga Kaneyan disebut “Sogili” seberat 5,7 kg dengan panjang + 1,37 meter dan lingkar perut 30 cm. Kerumunan warga yang hampir menutupi jalan uner terlihat sejak pukul 06.00 bahkan hampir menutup jalan desa tersebut untuk menyaksikan hewan yang mulai langka di daerah tersebut.
Adalah Teddy Ropa sang penemu Sogili tersebut menceritakan bahwa pada Senin malam ia memasang pancing besar (dalam bahasa Kaneyan di kenal dengan nama Tiwar) di samping Balai Desa dengan ujung tali yang diikatnya di tiang besi antena parabola tepat di depan gedung tersebut. Di ujung pancing ia mengaitkan umpan berupa udang segar. Pada malam harinya ia sempat mengontrol pancingnya tersebut namun belum ada hasilnya. Kemudian beberapa jam berselang tepatnya sekitar pukul 06.00 ia kembali ke Balai Desa dan mendapati tali pancingnya sudah dalam posisi tertarik di sungai. Tanpa pikir panjang Teddy langsung turun ke Sungai Sosongian untuk melihat penyebab tali pancingnya tertarik kencang. “Awalnya kita coba tarek mar span skali kong kita iko tu senar, ternyata kote ada tagulung di kayu besar dengan panjang + 1,5 meter (awalnya saya menarik tali pancing tetapi tidak bisa kemudian saya ikuti arah tali pancingnya, dan ternyata tergulung di sebatang kayu yang panjangnya + 1,5 meter). Teddy kemudian membuka gulungan tali pancingnya namun tiba-tiba dia terkejut karena ada gerakan air yang cukup kencang di bawah kayu tersebut. Ia kemudian dengan perlahan menyingkirkan kayu tersebut dan mencoba menarik tali pancingnya namun mendapat perlawanan yang cukup keras, sehingga ia memutuskan untuk menarik secara perlahan dari daratan. Dan bukan main terkejutnya Teddy setelah melihat Sogili yang besar mencuat dari dalam air. So lama kita batiwar maar baru skarang kita dapa tu basar bagini (sudah lama saya memancing tetapi baru sekarang saya temui Belut sebesar ini. Setelah puas dipamerkan ke warga akhirnya Teddy mengakhiri kehidupan Sogili tersebut di dalam wajan yang telah diberi bumbu. (21nK)

Minggu, 28 Agustus 2016

BERTANI PADI ANTARA BUDAYA DAN HARAPAN

Nuansa Pagi di Desa Kaneyan diwarnai dengan kesibukkan para ibu-ibu yang mempersiapkan  bekal (walun) untuk dibawa di kebun. Asap yang mengepul dari tungku tempat memasak (dodika) menelisik diantara atap rumah (Katu) yang terbuat dari Pohon Rumbia (Towasen) seakan menambah putih hamparan kabut pagi yang membawa kesejukkan di tengah ngarai yang tenang. Beberapa anak tampak asik memainkan tangannya disamping tunggku yang sementara menyala untuk menambah hangat tubuh yang pagi itu sangat dingin. Secara bersahut-sahutan terdengar bunyi Bia (Kerang) yang ditiup dan Tetengkoren (Bambu Berlobang) yang dipukul dengan kayu sebagai pertanda kelompok mapalus yang sudah harus mempersiapkan diri untuk bekerja.
Sementara itu disamping dapur sebuah meja tua sudah tersedia ditasnya teh dan kopi hangat beserta dengan Ketela (Ubi Kayu) dan sepiring pisang goreng yang diiris tipis dengan wangi minyak kelapa yang dioleh sendiri masih tercium menggoda selera. Tidak lupa pula dabu-dabu (Sambal) yang dicampur dengan Tai Minyak (Sepah hasil pembuatan minyak kelapa) tersaji sebagai teman untuk disantap bersama.
Sambil membenarkan posisi sebuah kursi tua yang terletak di kepala meja, Sang Bapak mengajak seantero keluarga untuk menikmati berkat Tuhan yang melimpah hasil dari kebun sendiri (walaupun ada juga yang diminta dari kebun tetangga). Setelah masing-masing mengucapkan Doa, percakapan pagi itu diawali oleh Bapak dengan mengutarakan pekerjaan yang akan dilakukan pada hari itu yaitu mengeringkan Telaga (Sawah) yang akan ditanami padi. Sesekali Sang Ibu kembali ke dapur untuk memutar Belanga yang sudah hamper masak (Pe’enen).
Pagi itu sebelum proses malintuang dilaksanakan aktifitas pertama yang kami lakukan adalah mengeringkan 


telaga / sawah dan memindahkan ikan ke petak sawah yang lain karena pada saat proses kerja dilakukan telaga harus dalam keadaan kering.


Hari itu kelompok mapalus secara bersama akan membantu untuk mengolah sawah / malintuang menyiapkan lahan di sawah untuk ditanami padi. Beberapa kelompok mapalus ibu-ibu terlihat mulai melakukan perjalanan menuju ke kebun untuk bekerja. Mereka dengan penuh ceria sambil bersenda gurau berjalan 

bersama penuh dengan keakrapan dan rasa kekeluargaan yang tinggi. Sambil memikul cangkul dengan Tolu (Topi) diatas kepala dan menenteng Walun (bekal) yang akan dimakan pada siang hari.

........................................................ -------------------- .........................................

Setelah beberapa bulan kemudian sampailah kami pada saat yang ditunggu-tunggu yaitu Mupu Wene (Panen Padi). Masing-masing orang sibuk dengan kegiatannya seperti mengiris padi, mengangkat padi menginjak Padi dan membersihkan Raami serta mengumpulkan padi.








Namun adakah kita sekarang memahami dengan benar perjuangan orang tua kita yang menghidupi dan menyekolahkan kita dengan membanting tulang bekerja untuk anak-anaknya ???

Senin, 04 Juli 2016

PAGI DI DESA KANEYAN


Diselimuti embun pagi nan dingin  terbawa oleh hembusan angin yang menerpa raut wajah seakan membelai wajah kita menghapus penat setelah cukup lama tidur beristirahat. Cahaya mentari mulai menembus kisi-kisi dedaunan yang membentang dari Bukit Koror hingga Bukit Wasian. Cahaya putih terpapar dengan warna kuning bias-bias sinar mentari yang menerpa dedaunan memanjakan hati mempesona jiwa menyatu dalam bekapan kedamaian disudut Desa Kaneyan. 
Pagi itu kesibukan utama adalah memasak air (Temiro Rano) untuk menyeduh semangkok Teh Panas ataupun Kopi Panas. Suasana hangat menyeruak seakan memahami kebutuhan mereka yang sedang memasak dan kedinginan di dapur, ditebarkan oleh nyala tungku (Dodika) yang bukan saja menghangatkan orang yang berada disekitar dapur tetapi juga berfungsi untuk mengeringkan jagung dan padi yang tertata rapih diatas “Soldor” (Rak bambu diatas tungku biasanya berada di dapur). Sebagai bahan persediaan makanan sambil menunggu waktu panen berikutnya. Sesekali terdengan gemericik kayu bakar yang memancar bagaikan kembang api alami menambah indahnya pagi di Desa yang sesalu diingat dimanapun kita berada bila pernah berkunjung ataupun tinggal di sana.
 
Memasuki Desa dari arah timur (Micona) melewati pekuburan umum, kita dijemput oleh Sumur Tua diujung Kampung. Sumur tempat menimba air oleh sebagian warga Kaneyan yang bermukim didaerah Matahari Terbit (Sendangan). Menurut penuturan warga, konon sumur ini tidak pernah kering walaupun pada musim kemarau yang panjang, 
suatu anugerah Tuhan bagi manusia yang bermukim disekitarnya  yang sudah seharusnya dijaga dan dipelihara dan bukan dibiarkan begitu saja setelah tidak dibutuhkan lagi. Teringat seberapa banyaknya air yang diambil dan dimanfaatkan dari sumur tersebut yang menegaskan peentingnya sumber air tersebut pada waktu yang lalu. Sampai tulisan ini dirilis, penulis belum mendpatkan informasi tahun berapa sumur ini pertama kali digali dan pada tahun berapa sumur ini dibuarkan pagar pelindung termasuk kapan di lakukan pemagaran dengan beton.
Desa ini dibentengi oleh 3 sekolah seakan mengharuskan warganya untuk mengedepanankan pendidikan sebagai kebutuhan utama masa depan anak-anak desa. Dibahagian utara terdapat SD Inpres Kaneyan, dibahagian Timur berdiri megah SD GMIM Kaneyan yang merupakan Sekolah tertua di Desa Kaneyan, sedangkan dibahagian selatan berdiri kokoh SMP Kristen Kaneyan. Khusus bagi anak pra sekolah para leluhur desa sengaja menempatkannya tepat ditengah desa sebagai bentuk monitoring bagi anak yang masih kecil dan perlu pengawasan masyarakat, itulah dia TK GMIM Kaneyan. Tersedianya sekolah di Desa Kaneyan memberikan dampak yang sangat baik bagi masyarakat dimana terdapat beberapa warga desa baik yang berkiprah di dalam desa maupun diluar Desa Kaneyan. Sebut saja Bpk. Alex Marentek yang pernah menjadi Protokoler Negara dimasa pemerintahan Presiden Soeharto. Juga ada perwira TNI seperti Pdt. Rudy Marentek, Jus Ratag (Danramil), Danny Ratag, Notji Pongkorung yang pernah menjadi Bendahara Kodam XIII Merdeka juga Hendrik Ratag. Saat ini ada juga wanita Desa Kaneyan yang merupakan Perwira yaitu Kapten Laut Diane Umboh. Terdapat juga warga Kaneyan yang mengabdi sebagai Polisi seperti AKBP Hansen Ratag, Kompol Recky Moniung berserta generasi muda lainnya yaitu : Metsen Moniung, Anto Rosang, Alfian Moniung, Herry Ratag, Victor Sumoked, Christian Laoh dan Putri Desa Kaneyan yaitu Indah Kawulur. Son Ratag, Nody Ratag dan lainnya.
Dalam Bidang Politik, Desa Kaneyan juga mempunyai putra dan putri yang berprestasi seperti Meydi Singal dan Friny Simbar yang merupakan anggota DPRD Kabupaten Minahasa Selatan. Sedangkan dibidang sipil sebut saja Robby Simbar yang pernah menjabat sebagai PPK PPIP Provinsi Sulawesi Utara dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Kotamobagu, Tommy Ropa yang pernah menjabat Lurah di Manado dan masih banyak lagi alumni dari Desa Kaneyan yang berprestasi lainnya. Hal ini mencerminkan betapa besarnya peranan para guru-guru yang ada di Desa Kaneyan. Sekarang menjadi tantangan bagi generaasi muda yang sementara menempuh pendidikan untuk dapat menunjukkan prestasinya sehingga dapat menjadi panutan bagi generasi dibawahnya.



Senin, 27 Juni 2016

KANEYAN ......EKSOTIKA DESA TEPI SUNGAI

Berada di ketinggian + 600 meter diatas permukaan laut dengan kontur berbukit membentuk pemukiman
yang terlihat bak sebuah nampan, suasana yang sejuk dan pemandangan yang indah seakan membawa kita kemasa
 lalu membayangkan keceriaan anak-anak desa yang berlarian sambil bermain tanpa alas kaki sambil melepaskan senyum tanpa beban.
Desa Kaneyan dibelah oleh sebuah sungai yang diberi nama Kuala (sungai) Sosongian yang sering disebut masyarakat dengan Kuala Ranowangko (Sungai berair besar/banyak). 
Hulu sungai berupa mata air yang keluar di antara bebatuan terletak di kaki Gunung Soputan berada di belakang hutan  Desa Ranolambot Kecamatan Kawangkoan. Kejernihan airnya seakan mengajak kita untuk mencicipinya menikmati kesempurnaan karya ciptaan Tuhan berupa air tanah dengan kandungan mineral yang seimbang dan sepatutnya kita jaga dan lestarikan demi kehidupan manusia dimasa yang akan datang. Kandungan Air mineral asli dengan rasa melebihi kenikmatan air kemasan pabrikan manapun, seakan membawa kita kemasa silam membayangkan sehatnya minuman para leluhur Desa Kaneyan mana kala mereka merasa haus.
Perbedaannya dengan sekarang yaitu Sungai Sosongian dahulu airnya dapat dikonsumsi di daerah “Uner” (bahagian tengah desa diantara Balai Desa dan Gereja GMIM Efrata) namun sekarang telah rusak oleh ulah manusia akibat pembuangan sampah terutama sampah plastic serta penggunaan racun dan listrik untuk menangkap ikan. Kerusakan ini diperparah oleh menghilangnya bebatuan yang menjadi tempat tinggal dan berlindungnya beberapa jenis makhluk hidup seperti ULANG (Udang), KELICIR (Kepiting) dan beberapa jenis ikan khas Desa Kaneyan.

KEHIDUPAN SUNGAI DAHULU
Berbagai macam makhluk air yang hidup di Sungai Sosongian baik secara individual maupun berkelompok seakan mendeklarasikan areal kekuasaannya. Udang seakan berkata
Keterangan Gambar : Udang Angoan
kepada makhluk air lainnya bahwa dibalik batu-batu ini adalah rumah tempatku hidup dan berkembang biak namun dia juga memohon
Keterangan Gambar : Udang Sampel
kepada manusia modern untuk tidak menyatukan batu-batu tempat tinggalnya dengan semen sehingga batu sungai yang tempatnya di sungai  berpindah di pekarangan rumah.
Derasnya aliran Sungai Sosongian seakan menambah kelincahan Ikan Gete-gete
 Kabos dan Sogili yang sambil lalulalang berseliweran sesekali membuka mulut mereka menjemput makanan yang dihanyukan oleh alam.
Hukum alam yang berlaku mampu menjaga kelangsungan ekosistem manakala yang lainnya sibuk bermain dalam derasnya aliran sungai, Nampak pula PAPALUUT (sejenis ikan/lintah sungai) yang mampu memeluk dan mencengkram bebatuan sambil sesekali menggesekkan badannya pada lumut-lumut yang melekat diatas batu untuk segera hanyut dan disantap oleh makhluk hidup lain. Namun akankah suasana seperti itu dapat terjadi kembali ???.... Tugas kita saat ini untuk mengembalikannya. Mari kita jaga lingkungan Desa Kaneyan agar supaya generasi sekarang ini akan dikenang dimasa yang akan datang sebagai Generasi Pelopor Penjaga Naturalisme Desa Kaneyan.