Nuansa Pagi di Desa Kaneyan
diwarnai dengan kesibukkan para ibu-ibu yang mempersiapkan bekal (walun) untuk dibawa di kebun. Asap yang
mengepul dari tungku tempat memasak (dodika) menelisik diantara atap rumah
(Katu) yang terbuat dari Pohon Rumbia (Towasen) seakan menambah putih hamparan kabut
pagi yang membawa kesejukkan di tengah ngarai yang tenang. Beberapa anak tampak
asik memainkan tangannya disamping tunggku yang sementara menyala untuk
menambah hangat tubuh yang pagi itu sangat dingin. Secara bersahut-sahutan terdengar
bunyi Bia (Kerang) yang ditiup dan Tetengkoren (Bambu Berlobang) yang dipukul
dengan kayu sebagai pertanda kelompok mapalus yang sudah harus mempersiapkan
diri untuk bekerja.
Sementara itu disamping dapur
sebuah meja tua sudah tersedia ditasnya teh dan kopi hangat beserta dengan
Ketela (Ubi Kayu) dan sepiring pisang goreng yang diiris tipis dengan wangi
minyak kelapa yang dioleh sendiri masih tercium menggoda selera. Tidak lupa
pula dabu-dabu (Sambal) yang dicampur dengan Tai Minyak (Sepah hasil pembuatan
minyak kelapa) tersaji sebagai teman untuk disantap bersama.
Sambil membenarkan posisi sebuah
kursi tua yang terletak di kepala meja, Sang Bapak mengajak seantero keluarga
untuk menikmati berkat Tuhan yang melimpah hasil dari kebun sendiri (walaupun
ada juga yang diminta dari kebun tetangga). Setelah masing-masing mengucapkan
Doa, percakapan pagi itu diawali oleh Bapak dengan mengutarakan pekerjaan yang
akan dilakukan pada hari itu yaitu mengeringkan Telaga (Sawah) yang akan
ditanami padi. Sesekali Sang Ibu kembali ke dapur untuk memutar Belanga yang
sudah hamper masak (Pe’enen).
Pagi itu sebelum proses
malintuang dilaksanakan aktifitas pertama yang kami lakukan adalah mengeringkan telaga / sawah dan memindahkan ikan ke petak sawah yang lain karena pada saat proses kerja dilakukan telaga harus dalam keadaan kering.
Hari
itu kelompok mapalus secara bersama akan membantu untuk mengolah sawah /
malintuang menyiapkan lahan di sawah untuk ditanami padi. Beberapa kelompok mapalus
ibu-ibu terlihat mulai melakukan perjalanan menuju ke kebun untuk bekerja. Mereka dengan penuh ceria sambil bersenda gurau berjalan
bersama penuh dengan keakrapan dan rasa kekeluargaan yang
tinggi. Sambil memikul cangkul dengan Tolu (Topi) diatas kepala dan menenteng Walun
(bekal) yang akan dimakan pada siang hari.
........................................................ -------------------- .........................................
Setelah beberapa bulan
kemudian sampailah kami pada saat yang ditunggu-tunggu yaitu Mupu Wene (Panen
Padi). Masing-masing orang sibuk dengan kegiatannya seperti mengiris padi,
mengangkat padi menginjak Padi dan membersihkan Raami serta mengumpulkan padi.
Namun adakah kita sekarang
memahami dengan benar perjuangan orang tua kita yang menghidupi dan
menyekolahkan kita dengan membanting tulang bekerja untuk anak-anaknya ???

















