Senin, 04 Juli 2016

PAGI DI DESA KANEYAN


Diselimuti embun pagi nan dingin  terbawa oleh hembusan angin yang menerpa raut wajah seakan membelai wajah kita menghapus penat setelah cukup lama tidur beristirahat. Cahaya mentari mulai menembus kisi-kisi dedaunan yang membentang dari Bukit Koror hingga Bukit Wasian. Cahaya putih terpapar dengan warna kuning bias-bias sinar mentari yang menerpa dedaunan memanjakan hati mempesona jiwa menyatu dalam bekapan kedamaian disudut Desa Kaneyan. 
Pagi itu kesibukan utama adalah memasak air (Temiro Rano) untuk menyeduh semangkok Teh Panas ataupun Kopi Panas. Suasana hangat menyeruak seakan memahami kebutuhan mereka yang sedang memasak dan kedinginan di dapur, ditebarkan oleh nyala tungku (Dodika) yang bukan saja menghangatkan orang yang berada disekitar dapur tetapi juga berfungsi untuk mengeringkan jagung dan padi yang tertata rapih diatas “Soldor” (Rak bambu diatas tungku biasanya berada di dapur). Sebagai bahan persediaan makanan sambil menunggu waktu panen berikutnya. Sesekali terdengan gemericik kayu bakar yang memancar bagaikan kembang api alami menambah indahnya pagi di Desa yang sesalu diingat dimanapun kita berada bila pernah berkunjung ataupun tinggal di sana.
 
Memasuki Desa dari arah timur (Micona) melewati pekuburan umum, kita dijemput oleh Sumur Tua diujung Kampung. Sumur tempat menimba air oleh sebagian warga Kaneyan yang bermukim didaerah Matahari Terbit (Sendangan). Menurut penuturan warga, konon sumur ini tidak pernah kering walaupun pada musim kemarau yang panjang, 
suatu anugerah Tuhan bagi manusia yang bermukim disekitarnya  yang sudah seharusnya dijaga dan dipelihara dan bukan dibiarkan begitu saja setelah tidak dibutuhkan lagi. Teringat seberapa banyaknya air yang diambil dan dimanfaatkan dari sumur tersebut yang menegaskan peentingnya sumber air tersebut pada waktu yang lalu. Sampai tulisan ini dirilis, penulis belum mendpatkan informasi tahun berapa sumur ini pertama kali digali dan pada tahun berapa sumur ini dibuarkan pagar pelindung termasuk kapan di lakukan pemagaran dengan beton.
Desa ini dibentengi oleh 3 sekolah seakan mengharuskan warganya untuk mengedepanankan pendidikan sebagai kebutuhan utama masa depan anak-anak desa. Dibahagian utara terdapat SD Inpres Kaneyan, dibahagian Timur berdiri megah SD GMIM Kaneyan yang merupakan Sekolah tertua di Desa Kaneyan, sedangkan dibahagian selatan berdiri kokoh SMP Kristen Kaneyan. Khusus bagi anak pra sekolah para leluhur desa sengaja menempatkannya tepat ditengah desa sebagai bentuk monitoring bagi anak yang masih kecil dan perlu pengawasan masyarakat, itulah dia TK GMIM Kaneyan. Tersedianya sekolah di Desa Kaneyan memberikan dampak yang sangat baik bagi masyarakat dimana terdapat beberapa warga desa baik yang berkiprah di dalam desa maupun diluar Desa Kaneyan. Sebut saja Bpk. Alex Marentek yang pernah menjadi Protokoler Negara dimasa pemerintahan Presiden Soeharto. Juga ada perwira TNI seperti Pdt. Rudy Marentek, Jus Ratag (Danramil), Danny Ratag, Notji Pongkorung yang pernah menjadi Bendahara Kodam XIII Merdeka juga Hendrik Ratag. Saat ini ada juga wanita Desa Kaneyan yang merupakan Perwira yaitu Kapten Laut Diane Umboh. Terdapat juga warga Kaneyan yang mengabdi sebagai Polisi seperti AKBP Hansen Ratag, Kompol Recky Moniung berserta generasi muda lainnya yaitu : Metsen Moniung, Anto Rosang, Alfian Moniung, Herry Ratag, Victor Sumoked, Christian Laoh dan Putri Desa Kaneyan yaitu Indah Kawulur. Son Ratag, Nody Ratag dan lainnya.
Dalam Bidang Politik, Desa Kaneyan juga mempunyai putra dan putri yang berprestasi seperti Meydi Singal dan Friny Simbar yang merupakan anggota DPRD Kabupaten Minahasa Selatan. Sedangkan dibidang sipil sebut saja Robby Simbar yang pernah menjabat sebagai PPK PPIP Provinsi Sulawesi Utara dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Kotamobagu, Tommy Ropa yang pernah menjabat Lurah di Manado dan masih banyak lagi alumni dari Desa Kaneyan yang berprestasi lainnya. Hal ini mencerminkan betapa besarnya peranan para guru-guru yang ada di Desa Kaneyan. Sekarang menjadi tantangan bagi generaasi muda yang sementara menempuh pendidikan untuk dapat menunjukkan prestasinya sehingga dapat menjadi panutan bagi generasi dibawahnya.