yang terlihat bak sebuah nampan, suasana yang sejuk dan pemandangan yang indah seakan membawa kita kemasa
lalu membayangkan keceriaan anak-anak desa yang berlarian sambil bermain tanpa alas kaki sambil melepaskan senyum tanpa beban.
Desa Kaneyan dibelah oleh sebuah sungai yang diberi nama Kuala (sungai)
Sosongian yang sering disebut masyarakat dengan Kuala Ranowangko (Sungai berair
besar/banyak).
Hulu sungai berupa mata air yang keluar di antara bebatuan terletak di
kaki Gunung Soputan berada di belakang hutan
Desa Ranolambot Kecamatan Kawangkoan. Kejernihan airnya seakan mengajak
kita untuk mencicipinya menikmati kesempurnaan karya ciptaan Tuhan berupa air
tanah dengan kandungan mineral yang seimbang dan sepatutnya kita jaga dan
lestarikan demi kehidupan manusia dimasa yang akan datang. Kandungan Air
mineral asli dengan rasa melebihi kenikmatan air kemasan pabrikan manapun,
seakan membawa kita kemasa silam membayangkan sehatnya minuman para leluhur
Desa Kaneyan mana kala mereka merasa haus.
Perbedaannya dengan sekarang yaitu Sungai Sosongian dahulu airnya dapat
dikonsumsi di daerah “Uner” (bahagian tengah desa diantara Balai Desa dan
Gereja GMIM Efrata) namun sekarang telah rusak oleh ulah manusia akibat pembuangan
sampah terutama sampah plastic serta penggunaan racun dan listrik untuk
menangkap ikan. Kerusakan ini diperparah oleh menghilangnya bebatuan yang
menjadi tempat tinggal dan berlindungnya beberapa jenis makhluk hidup seperti ULANG
(Udang), KELICIR (Kepiting) dan beberapa jenis ikan khas Desa Kaneyan.
KEHIDUPAN SUNGAI DAHULU
Berbagai macam makhluk air yang hidup di Sungai Sosongian baik secara
individual maupun berkelompok seakan mendeklarasikan areal kekuasaannya. Udang
seakan berkata
Keterangan Gambar : Udang Angoan
kepada makhluk air lainnya bahwa dibalik batu-batu ini adalah
rumah tempatku hidup dan berkembang biak namun dia juga memohon
Keterangan Gambar : Udang Sampel
kepada manusia
modern untuk tidak menyatukan batu-batu tempat tinggalnya dengan semen sehingga
batu sungai yang tempatnya di sungai
berpindah di pekarangan rumah.
Derasnya aliran Sungai Sosongian seakan menambah kelincahan Ikan
Gete-gete
Kabos dan Sogili yang sambil lalulalang berseliweran sesekali membuka mulut mereka menjemput makanan yang dihanyukan oleh alam.
Kabos dan Sogili yang sambil lalulalang berseliweran sesekali membuka mulut mereka menjemput makanan yang dihanyukan oleh alam.
Hukum alam yang berlaku mampu menjaga kelangsungan ekosistem manakala
yang lainnya sibuk bermain dalam derasnya aliran sungai, Nampak pula PAPALUUT (sejenis
ikan/lintah sungai) yang mampu memeluk dan mencengkram bebatuan sambil sesekali
menggesekkan badannya pada lumut-lumut yang melekat diatas batu untuk segera hanyut
dan disantap oleh makhluk hidup lain. Namun akankah suasana seperti itu dapat
terjadi kembali ???.... Tugas kita saat ini untuk mengembalikannya. Mari kita
jaga lingkungan Desa Kaneyan agar supaya generasi sekarang ini akan dikenang
dimasa yang akan datang sebagai Generasi Pelopor Penjaga Naturalisme Desa
Kaneyan.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar