Minggu, 28 Agustus 2016

BERTANI PADI ANTARA BUDAYA DAN HARAPAN

Nuansa Pagi di Desa Kaneyan diwarnai dengan kesibukkan para ibu-ibu yang mempersiapkan  bekal (walun) untuk dibawa di kebun. Asap yang mengepul dari tungku tempat memasak (dodika) menelisik diantara atap rumah (Katu) yang terbuat dari Pohon Rumbia (Towasen) seakan menambah putih hamparan kabut pagi yang membawa kesejukkan di tengah ngarai yang tenang. Beberapa anak tampak asik memainkan tangannya disamping tunggku yang sementara menyala untuk menambah hangat tubuh yang pagi itu sangat dingin. Secara bersahut-sahutan terdengar bunyi Bia (Kerang) yang ditiup dan Tetengkoren (Bambu Berlobang) yang dipukul dengan kayu sebagai pertanda kelompok mapalus yang sudah harus mempersiapkan diri untuk bekerja.
Sementara itu disamping dapur sebuah meja tua sudah tersedia ditasnya teh dan kopi hangat beserta dengan Ketela (Ubi Kayu) dan sepiring pisang goreng yang diiris tipis dengan wangi minyak kelapa yang dioleh sendiri masih tercium menggoda selera. Tidak lupa pula dabu-dabu (Sambal) yang dicampur dengan Tai Minyak (Sepah hasil pembuatan minyak kelapa) tersaji sebagai teman untuk disantap bersama.
Sambil membenarkan posisi sebuah kursi tua yang terletak di kepala meja, Sang Bapak mengajak seantero keluarga untuk menikmati berkat Tuhan yang melimpah hasil dari kebun sendiri (walaupun ada juga yang diminta dari kebun tetangga). Setelah masing-masing mengucapkan Doa, percakapan pagi itu diawali oleh Bapak dengan mengutarakan pekerjaan yang akan dilakukan pada hari itu yaitu mengeringkan Telaga (Sawah) yang akan ditanami padi. Sesekali Sang Ibu kembali ke dapur untuk memutar Belanga yang sudah hamper masak (Pe’enen).
Pagi itu sebelum proses malintuang dilaksanakan aktifitas pertama yang kami lakukan adalah mengeringkan 


telaga / sawah dan memindahkan ikan ke petak sawah yang lain karena pada saat proses kerja dilakukan telaga harus dalam keadaan kering.


Hari itu kelompok mapalus secara bersama akan membantu untuk mengolah sawah / malintuang menyiapkan lahan di sawah untuk ditanami padi. Beberapa kelompok mapalus ibu-ibu terlihat mulai melakukan perjalanan menuju ke kebun untuk bekerja. Mereka dengan penuh ceria sambil bersenda gurau berjalan 

bersama penuh dengan keakrapan dan rasa kekeluargaan yang tinggi. Sambil memikul cangkul dengan Tolu (Topi) diatas kepala dan menenteng Walun (bekal) yang akan dimakan pada siang hari.

........................................................ -------------------- .........................................

Setelah beberapa bulan kemudian sampailah kami pada saat yang ditunggu-tunggu yaitu Mupu Wene (Panen Padi). Masing-masing orang sibuk dengan kegiatannya seperti mengiris padi, mengangkat padi menginjak Padi dan membersihkan Raami serta mengumpulkan padi.








Namun adakah kita sekarang memahami dengan benar perjuangan orang tua kita yang menghidupi dan menyekolahkan kita dengan membanting tulang bekerja untuk anak-anaknya ???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar