Senin, 27 Juni 2016

KANEYAN ......EKSOTIKA DESA TEPI SUNGAI

Berada di ketinggian + 600 meter diatas permukaan laut dengan kontur berbukit membentuk pemukiman
yang terlihat bak sebuah nampan, suasana yang sejuk dan pemandangan yang indah seakan membawa kita kemasa
 lalu membayangkan keceriaan anak-anak desa yang berlarian sambil bermain tanpa alas kaki sambil melepaskan senyum tanpa beban.
Desa Kaneyan dibelah oleh sebuah sungai yang diberi nama Kuala (sungai) Sosongian yang sering disebut masyarakat dengan Kuala Ranowangko (Sungai berair besar/banyak). 
Hulu sungai berupa mata air yang keluar di antara bebatuan terletak di kaki Gunung Soputan berada di belakang hutan  Desa Ranolambot Kecamatan Kawangkoan. Kejernihan airnya seakan mengajak kita untuk mencicipinya menikmati kesempurnaan karya ciptaan Tuhan berupa air tanah dengan kandungan mineral yang seimbang dan sepatutnya kita jaga dan lestarikan demi kehidupan manusia dimasa yang akan datang. Kandungan Air mineral asli dengan rasa melebihi kenikmatan air kemasan pabrikan manapun, seakan membawa kita kemasa silam membayangkan sehatnya minuman para leluhur Desa Kaneyan mana kala mereka merasa haus.
Perbedaannya dengan sekarang yaitu Sungai Sosongian dahulu airnya dapat dikonsumsi di daerah “Uner” (bahagian tengah desa diantara Balai Desa dan Gereja GMIM Efrata) namun sekarang telah rusak oleh ulah manusia akibat pembuangan sampah terutama sampah plastic serta penggunaan racun dan listrik untuk menangkap ikan. Kerusakan ini diperparah oleh menghilangnya bebatuan yang menjadi tempat tinggal dan berlindungnya beberapa jenis makhluk hidup seperti ULANG (Udang), KELICIR (Kepiting) dan beberapa jenis ikan khas Desa Kaneyan.

KEHIDUPAN SUNGAI DAHULU
Berbagai macam makhluk air yang hidup di Sungai Sosongian baik secara individual maupun berkelompok seakan mendeklarasikan areal kekuasaannya. Udang seakan berkata
Keterangan Gambar : Udang Angoan
kepada makhluk air lainnya bahwa dibalik batu-batu ini adalah rumah tempatku hidup dan berkembang biak namun dia juga memohon
Keterangan Gambar : Udang Sampel
kepada manusia modern untuk tidak menyatukan batu-batu tempat tinggalnya dengan semen sehingga batu sungai yang tempatnya di sungai  berpindah di pekarangan rumah.
Derasnya aliran Sungai Sosongian seakan menambah kelincahan Ikan Gete-gete, Kabos dan Sogili yang sambil lalulalang berseliweran sesekali membuka mulut mereka menjemput makanan yang dihanyukan oleh alam.
Hukum alam yang berlaku mampu menjaga kelangsungan ekosistem manakala yang lainnya sibuk bermain dalam derasnya aliran sungai, Nampak pula PAPALUUT (sejenis ikan/lintah sungai) yang mampu memeluk dan mencengkram bebatuan sambil sesekali menggesekkan badannya pada lumut-lumut yang melekat diatas batu untuk segera hanyut dan disantap oleh makhluk hidup lain. Namun akankah suasana seperti itu dapat terjadi kembali ???.... Tugas kita saat ini untuk mengembalikannya. Mari kita jaga lingkungan Desa Kaneyan agar supaya generasi sekarang ini akan dikenang dimasa yang akan datang sebagai Generasi Pelopor Penjaga Naturalisme Desa Kaneyan.



6 komentar: